Rabu, 15 Desember 2010

Aspek Seksualitas dalam Keperawatan untuk Oaran Dewasa

BAB I. PENDAHULUAN

I.I  Latar Belakang

Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Seksualitas di defenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Karena itu pengertian dari seksualitas merupakan sesuatu yang lebih luas dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan kegiatan fisik hubungan seksual. Seksualitas merupakan aspek yang sering di bicarakan dari bagian personalitas total manusia, dan berkembang terus dari mulai lahir sampai kematian. Banyak elemen-elemen yang terkait dengan keseimbangan seks dan seksualitas. Elemen-elemen tersebut termasuk elemen biologis; yang terkait dengan identitas dan peran gender berdasarkan ciri seks sekundernya dipandang dari aspek biologis. Elemen sosiokultural, yang terkait dengan pandangan masyarakat akibat pengaruh kultur terhadap peran dan kegiatan seksualitas yang dilakukan individu. Sedangkan elemen yang terakhir adalah elemen perkembangan psikososial laki-laki dan perempuan. Hal ini dikemukakan berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang kaitannya antara identitas dan peran gender dari aspek psikososial. Termasuk tahapan perkembangan psikososial yang harus dilalui oleh oleh individu berdasarkan gendernya.

BAB II  PEMBAHASAN

I.     Pengertian Seksualitas

Seksualitas suliat untuk di definisikan karena seksualitas memiliki banyak aspek kehidupan kita dan diekspresikan melalui beragam perilaku. Seksualitas bukan semata-mata bagian intrinsik dari seseorang tetapi juga meluas sampai berhubungan dengan orang lain. Keintiman dan kebersamaan fisik merupakan kebutuhan sosial dan biologis sepanjang kehidupan. Kesehatan seksual telah didefinisikan sebagai perintregrasian aspek somatik emosional intelektual dan social dari kehidupan seksual dengan cara yang positif memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta. Banyak orang salah berpikir tentang seksualitas hanya dalam istilah seks. Seksualitas dan seks bagaimanapun adalah sesuatu hal yang berbeda seks sering digunakan dalam 2 cara. Paling umum seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari berhubungan, yaitu aktivitas seksual genital. Seks juga digunakan untuk member lebel jender, baik sesorang itu pria atau wanita. Seksualitas dilain pihak adalah istilah yang lebih luas seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda dan atau sama dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual dan perilaku yang lebih halus, seperti isyarat gerak tubuh, etiket berpakaian, dan perbendaharaan kata. Seksualitas mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pengalaman hidup ini sering berbeda antara pria dan wanita (Denney dan Quadagno, 1992; Zawid, 1994)

II.  Aspek Seksualitas dalam Keperawatan untuk orang dewasa

a.    Masalah keperawatan pada seksualitas

Masalah keperawatan yang terjadi pada kebutuhan seksual adalah pola seksual dan perubahan disfungsi seksual. Pola seksual mengandung arti bahwa suatu kondisi seorang individu mengalami atau beresiko mengalami perubahan kesehatan seksual sedangkan kesehatan seksual sendiri adalah integrasi dari aspek samatis, emosional, intelektual, dan sosial dari keberadaan seksual yang dapat meningkatkan rasa cinta, komunikasi, dan kepribadian. Disfungsi seksual adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau beresiko mengalami perubahan fungsi seksual yang negatif yang di pandang sebagai tidak berharga dan tidak memadainya fungsi seksual.

b.   Perkembangan Seksual

-                 Masa Dewasa

Dewasa telah mencapai maturasi tetapi terus untuk mengesplorasi dan menemukan maturasi emosional dalam hubungan. Dewasa mudah secara tradisonal dipandang sebagai berperan dalam melahirkan anak atau membesarkan anak. Model ini menggambarkan sebagian besar orang dewasa. Keintiman dan seksualitas juga merupakan masalah bagi orang dewasa yang memilih untuk tidak melakukan hubungan seks, tetap melajang karena pilihan sendiri atau karena situasi tertentu tetap menginginkan aktivitas seksul, yaitu mereka yang melajang setelah memutuskan hubungan, mereka yang homoseksul, mereka yang tidak mempunyai anak berdasarkan pilihan, atau mereka yang tidak mampu melahirkan anak. Sambil mengembangkan hubungan yang intim, semua orang dewasa yang secara seksual aktif harus belajar teknik stimulasi dan respon seksual yang memuaskan bagi pasangan mereka beberapa orang dewasa mungkin hanya memerlukan isi untuk beresksperimen dengan perilaku.plihan atau keyakinan bahwa ekspresi seksual selain dari senggama penis-vagina adlah normal. Orang dewasa dapat didorong untuk mengungkapkan kepada pasangan mereka tipe stimuli dan seksual atau kasih sayang yang dianggap sebagai memuaskan. Pengenalan secara mutual tentang keinginan dan preverensi dan negosiasi praktik seksual mencetuskan ekspresi seksual yang positif. Penyuluhan keagaman, nilai keluarga, dan sikap keluarga mempengaruhi penerimaan terhadap sebagian bentuk stimulasi atau mungkin akan mempunyai efek emosional residual seperti rasa bersalah atau ansietas dan disfungsi seksual.
Pada akhir masa dewasa individu menyesuiakan diri terhadap perubahan social dan emosi sejalan denga anak2 mereka meninggalkan rumah.pembaruan kembali keintiman dapat memungkinkan atau diperlukan diantara pasangan.nmun demikian salah sati atau kedua pasangan dapat mengalami ancaman terhadap gambaran diri karena tubuh ltelah menua dan mungkin berupaya untuk mencapai kemudaan melalui hubunga seksual dengan pasangan yang jauh lbh muda.jika di inginkan pasangan dapat di bantu untuk mennemukan sesuatu yang baru atau kegairahan baru galam hubungan monogami yang langgeng melalui percobaan posisi teknik seksual dan penggunaan fantasi.

-            Masa Dewasa Muda Dan Pertengahan Umur

   Pada tahap ini perkembangan secara fisik sudah cukup dengan ciri seks sekunder mencapai puncaknya, yaitu antara umur 18-30 tahun. Pada masa pertengahan umur terjadi perubahan hormonal: pada wanita ditandai dengan penurunan estrogen, pengecilan payu darah dan jaringan vagina, penurunan cairan vagina selanjutnya akan tejadi penurunan reaksi ereksi. Pada pria di tandai dengan penurunan ukuran penis serta penurunan semen. Dari perkembangan psikososial, sudah mulai terjadi hubungan intim antara lawan jenis proses pernikahan dan memiliki anak sehingga terjadi perubahan peran.

-            Masa dewasa tua

   Perubahan yang terjadi pada tahap ini pada wanita di antaranya adalah atropi pada vagina dan jaringan payudara, penurunan cairan vagina, dan penurunan intensitas orgasme pada wanita sedangakan pada pria akan mengalami penurunan produksi sperma, berkurangnya intensitas orgasme, terlambatnya pencapaian ereksi dan pembesaran kelenjar prostat.

-            Masa Dewasa Tua (Lansia)

   Seksualitas dalam usia tua beralih dari  penekanan pada prokreasi mnjdi penekanan pd pertemanan kedekatan fisik komunikasi intim dan hubungan fisik mncri ksenangan (Ebersole & Hess 1994).Tidak ADa alas an bagi individu tdk dpat ttp aktf secara seksual sepanjang mereka memilihnya.Hal ini dapat secara efektif dipenuhi dgn mmperthnkn aktifitas seksual scra teratur sepnjng hidup.terutama seks bagi wanita hubungan senggama teratur membantu mmperthnkan elastisitas vagina mncegah atrofi dam mmperthnkan kemampuan untuk lubrikasi. Namun demikian proses penuaan mempengaruhi perilaku seksual. Perubahan fisik yang terjadi bersama proses penuaan harus dijelaskan kepada klien lansia.lansia mngkin juga menghadapi kekuatiran kesehatan yang mmbuat sulit   bagi mereka utk melanjutkan aktifitas seksual.dewasa yang menua mungkin harus menyesuaikan tindakan seksual dan berespons terhadap penyakit kronis medikasi sakit dan nyeri atau masalah kesehatan lainnya.

c.       Penyimpangan seksual pada orang dewasa

   Beberapa bentuk penyimpangan seksual atau deviasi seksual yang dapat dijumpai di masyarakat atara lain:
1.             Pedovilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek anak-anak. Penyimpangan ini ditandai dengan adanya fantasi berhubunga seksual dengan anak puberitas. Hal tersebut disebabkan oleh kelainan mental, seperti zhizofrenia, sadisme organik, atau gangguan kepribadian organik.
2.             Eksibisionisme yaitu kepuasan seksualdicapai dengan cara mempertontonkan alat kelamin dihadapan orang yang tidakdikenal, namun tidak ada upaya untuk melakukan hubungan seksual.
3.             Fetisisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan benda seks seperti sepatu tinggi, pakaian dalam, stocking, atau lainnya. Disfungsi ini dapat disebabkan antara lain karena eksperimen seksualyang normal dan beda pergantian kelamin.
4.             Transvestisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan memakai pakaian lawan jenis dan melakukan peran seks yang berlawanan, misalnya pria yang sedangan menggunakan pakaian dalam wanita.
5.             Transeksualisme yaitu bentuk penyimpangan seksual ditandai dengan perasaan tidak senang terhadap alat kelaminnya, adanya kelainan untuk berganti kelamin.
6.             Voyerisme / Skopoffilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan melihat alat kelamin orang lain atau aktivitas seksual yang dilakukan orang lain.
7.             Marokisme yaitu kepuasan seksual dicapai melalui kekerasan atau disakiti terlebih dahulu secara fisik atau psikologi.
8.             Sadisme merupakan lawan dari Masokisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menyakiti objeknya, baik secara fisik maupun psikologis (dengan menyiksa pasangan) hal tersebut dapat disebabkan antara lain karena perkosaan dan pendidikan yang salah.
9.             Homoseksual dan Lesbianisme yaitu penyimpangan seksual yang ditandai dengan ketertarikan secara fisik maupun emosi kepada sesama jenis. Kepuasan seksual dicapai melalui hubungan dengan orang berjenis kelamin sama.
10.         Zoofilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek binatang.
11.         Sodomi yaitu kepuasan seksual dicapai dengan hubungan melalui anus.
12.         Nekropilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek mayat.
13.         Koprofilia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek feses.
14.         Urolagnia yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan objek urine yang diminum.
15.         Oral seks/Kunilingus yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunakan mulut pada alat kelamin wanita.
16.         Fekiksio yaitu kepuasan seksual dicapai dengan menggunkan mulut pada alat kelamin laki-laki.
17.         Froterisme/Friksionisme yaitu kepuasan seksual dicapai dengan cara menggosokan penis pada pantat wanita atau badan yang berpakain ditempat yang penuh sesak manusia.
18.         Goronto yaitu kepuasan seksual dicapai melalui hubungan dengan lansia.
19.         Frottage yaitu kepuasan seksual dicapai dengan cara meraba orang yang senangi tanpa diketahui lawan jenis.
20.         Pornografi yaitu gambar atau tulisan yang dibuat secara khusus untuk memberi rangsangan seksual (Maramis WF, 2004).

d.      Faktor-faktor yang mempengaruhi masalah seksual

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi gangguan dalam fungsi seksual diantaranya:
1.             Tidak adanya panutan (role model)
2.             Gangguan struktur dan fungsi tubuh seperti adanya trauma, obat, kehamilan atau abnormalitas anatomi genetalia.
3.             Kurang pengetahuan atau informasi yang salah megenai masalah seksual.
4.             Penganiayaan secara fisik.
5.             Adanya penyimpangan psikoseksual.
6.             Konflik terhadap nilai.
7.             Kehilangan pasangan karena perpisahan atau kematian.

PENUTUP

A.  Kesimpulan


            Seksualitas merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kebutuhan seksual yang dialami oleh orang dewasa merupakan kebutuhan seks yang mengalami penurunan fungsi organ reproduksi mengakibatkan kecanggungan dalam hubungan pasangan suami istri.
            Masalah keperawatan yang terjadi pada kebutuhan seksual adalah pola seksual dan perubahan disfungsi seksual. Pola seksual mengandung arti bahwa suatu kondisi seorang individu mengalami atau beresiko mengalami perubahan kesehatan seksual
            Disfungsi seksual adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau beresiko mengalami perubahan fungsi seksual yang negatif yang di pandang sebagai tidak berharga dan tidak memadainya fungsi seksual.

B.   Saran


Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Seksualitas di defenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Oleh karena itu seksualitas pada orang dewasa sangat dibutuhkan dalam keharmonisan keluarga.


DAFTAR PUSTAKA
Alimul H, A.A. 2006. Pengantar kebutuhan dasar manusia. Jakarta: salemba medika.
Anonim, 2010. Pengertian seksualita. http://blog.re.or.id/seksualitas.htm Di akses pada 16 mei 2010.
Anonim, 2010. Aspek Seksualitas dalam Keperawatan untuk orang dewasa. http://blog.re.or.id/aspek seksualitas.htm Di akses pada 16 mei 2010.
Potter dan perry. 2005. Buku ajar fundamental keperawatan : konsep, proses, dan praktik. Edisi 4 Jakarta: EGC



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar